Tentang Suluk Lintang Lanang....
Oleh: Pralistya Wibowo*
Bandung,.....................201.........
Lalu, dimana senja itu menghilang?
tergulung oleh ombak di titian sana?
menemani camar berarak?
bersembunyi pada bayangan mentari?
atau sekedar menatap pantai...?
dan terbahak?
Interpretasi adalah abstrak. Pada suatu titik hilang, hanya ditemukan kebisuan. Seorang kawan hanya datang dan pergi semau hatinya. Tanggalkan berlembar-lembar kertas putih yang telah ternoda. Apakah dunia lalu akan berubah setelah kau meninggalkannya?
Sedikit aku bertanya artinya, "perjalanan".. dan aku rasa memang hanya pantas disebut "perjalanan" saja. Suluk... Yah itulah seharusnya judulnya. Tanpa Lintang atau Lanang.
Tetapi aku justru jatuh cinta pada bait Lintang. Entah karena memang aku terlahir sebagai melankolis usang atau hanya sekedar bisa memvisualisasikannya. Mengutip kalimatnya "Masih kurang lagi? Bahkan segala sesuatu tentang diriku sudah sepenuhnya dia miliki?"
Begitulah dunia. Tidak akan pernah cukup dan cukup. Layaknya senja yang tak pernah absen muncul setiap mentari terbenam.
"Kutembak saja mentari, atau akan aku pinjam Howitzer untuk meledakkannya!!! Biar mati..."
Sebuah pencapaian pribadi yang hebat. Karena kau bukan seorang melankolis. Bahkan aku merinding ketika kau menuliskan sebait demi sebaitnya.
Suluk saja...
*Pralistya Wibowo
Seniman Paruh Waktu
***
Suluk Lintang Lanang
Oleh: Andika Kurniantoro*
Feminisme, etnisitas, orientasi seksual, nasionalisme, semuanya diaduk-aduk jadi lodeh!!! Ha ha ha Daliyem Gila teriakkan mantra. Di beranda tertawa-tawa.
Tai celeng, Yeeemmm!!! Hidupku sederhana!!! Tak butuh diperbelit!!!
Huusss Lambemu itu lho
Kasar dan saru? Ah itu belum seberapa. Petikan di atas saya cuplik dari cerpen berjudul Waktu Sarapan Pagi. Salah satu cerpen yang termuat di antologi bertajuk Suluk Lintang Lanang, karya kawan saya Setyo A. Saputro.
Buku tipis ini memuat 24 cerpen dengan beragam sudut pandang, gaya penulisan dan tempramen. Diterbitkan oleh penerbit buku indie, membuat penulis merasa bebas menyalurkan ekspresi apapun kedalam buku ini. Istilah kasar (yang kebanyakan dalam dialek jawa) seperti lambemu, jancuk, lonte dan sebagainya sengaja diloloskan utuh. Justru disitulah letak titik beratnya.
Lho, bahasa kasar jadi titik berat, apa tidak salah?
Tunggu dulu, tentu saja tak hanya itu, cerpen-cerpen yang dimuat melukiskan penderitaan, rasa tertekan, terjajah dan ketimpangan sosial kaum marginal. Atau setidaknya kesan itulah yang saya tangkap.
Kafe remang-remang, kopi susu dan jazz juga memberi warna yang cukup dominan disini. Coba anda baca sampai tuntas, dan semoga semua sependapat dengan saya, bahwa semua cerita yang dihadirkan tak ada yang berakhir bahagia. Tak percaya ?
Dari sedikit ulasan yang saya celotehkan di atas, sepertinya unsur ekstrinsik penulisan seluruh cerpen di buku ini (yang ditulis dalam rentang tahun 2006 hingga 2011) menjadi terbaca dengan sendirinya.
Mengamati struktur penulisan yang selengekan, masa bodoh, penuh umpatan, memberi nyawa pada semua benda mati mengingatkan kita pada gaya penulisan sastrawan legendaris Indonesia, seperti Rendra atau Chairil Anwar.
Rentang waktu penulisan yang relatif panjang juga dengan sendirinya menciptakan perbedaan warna tulisan. Untuk tujuan tertentu sang penulis sengaja menuliskan angka tahun di setiap akhir cerpen. Dengan begitu kita tahu pada tahun berapa cerpen tersebut ditulis. Dan jika kita amati lebih dalam, terdapat pergeseran gaya penulisan yang tak kentara tapi cukup mempengaruhi cita rasa cerpen-cerpen yang dihasilkan, dari tahun ke tahun. Seperti apa pergeseran yang saya maksud? Tentu saja saya tak akan beberkan disini. Anda bisa mencicipi sendiri legitnya buku ini.
Satu lagi. Karena buku antologi ini diterbitkan secara indie alias swadaya, maka Anda tak dapat menemukan buku ini di toko buku kesayangan Anda. Namun rasa penasaran tetap bisa dipuaskan dengan melakukan pemesanan secara langsung melalui pranala yang saya lampirkan di bawah artikel ini.
Suluk Lintang Lanang :
http://www.facebook.com/pages/Suluk-Lintang-Lanang/202119909844961
http://www.wix.com/lintanglanang/suluk#!
* Andika Kurniantoro
Blogger paruh waktu. Karyawan di sebuah perusahaan swasta Indonesia. Lajang. Gemar menonton film dan membaca buku sejarah.
(Tulisan asli bisa dilihat di sini )
***
Kejamnya Oknum Aparat Terhadap PKL
(Harian JogloSemar edisi Minggu, 25 September 2011)
Negara ini memang belum sepenuhnya mampu menyejahterakan rakyatnya. Jangankan menyejahterakan, memberi kemerdekaan pada masyarakatnya untuk mencari sesuap nasi saja tak dipenuhi. Terbukti para pedagang kecil yang coba mengais rezeki di jalan-jalan sekadar untuk menyambung hidup digusur. Jika pun diizinkan pasti bakal kena palak oleh oknum baik aparat maupun preman.
Itulah intisari yang coba diceritakan di cerpen berjudul Cerita Jelek dari Negeri Brengsek. Dikisahkan, seorang pedagang kaki lima (PKL), Tolani, yang dilarang berjualan di taman kota. Selain diusir, ia juga mendapat perlakuan kasar seperti dipukul, dijambak, dan ditendang. Bahkan sebelum pergi ia harus menyetor uang ke oknum aparat tersebut.
Beragam umpatan juga keluar dari mulut buas oknum aparat berseragam hijau dan memakai sepatu pakaian dinas lapangan (PDL) itu. Kumisnya yang garang juga mengisyaratkan tabiatnya yang kejam dan tak berperi kemanusiaan.
Tanpa berpikir panjang, Tolani langsung ngacir dan tak memedulikan gerobaknya yang berisi dagangan rokok dan minuman mineral tergeletak sendirian. Tapi di sepanjang perjalanan, ia bingung bukan kepalang. Uang Rp 52.000 yang didapat dari hasil berjualan siang itu sebenarnya ingin digunakan untuk memeriksakan anaknya, Budi, yang sedang sakit. Mencret anak bungsunya itu sudah empat hari tidak berhenti.
Meski hanya seorang PKL, namun anak sulung Tolani, Mira, cukup pintar di kelasnya. Hari itu Mira bisa pulang cepat gara-gara bisa menjawab pertanyaan sayembara dari gurunya, Bu Ndari. Hatinya pun gembira bukan kepalang karena setelah pulang ingin segera membantu bapaknya jualan di taman kota.
Ringkasan cerpen di atas hanya satu dari 24 cerpen yang dibukukan oleh Setyo A Saputro dan diberi judul Suluk Lintang Lanang. Selain dicetak terbatas atau indie cerita dari cerpen yang dihasilkan cukup sederhana dan terkait dengan kehidupan sehari-hari. Selamat membaca!
Widi Purwanto
*Tulisan asli bisa dilihat di sini